Kamis, 06 Oktober 2016

BERPRASANGKA

Untuk kedua kalinya hujan di bulan Oktober. Alhamdulillah bisa menikmati betapa anugerah yang terindah yang turun dari langit dan membasahi permukaan tanah dan mengurangi kehausan tanaman dan tumbuhan yang membutuhkan. Sungguh fenomena alam yang luar biasa yang Allah berikan kepada makhlukNya yang membutuhkan. Apakah manusia akan bersyukur? Ya semoga saya termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bersyukur kepada Allah. Aamiin ya Allah.

Dengan ditemani udara dingin setelah dibasahi hujan bahkan masih rintik-rintik, kududuk sendiri disini menuliskan sesuatu yang menghiasi pikiranku ke dalam blog ini. Untuk mendukung perasaanku maka kuputarkan lagu-lagu sendu. Ya mungkin bisa membangkitkan semangat menulis. Setelah kurasa persiapanku cukup maka mulailah kumenulis.

Walaupun saya bingung memulai dari mana tapi ketika kita tuangkan saja maka akan mengalir dengan sendirinya.

Setelah sekian lama tidak ketemu dengan seseorang itu maka kami dipertemukan kembali olehNYA di almamater tercinta Kampus Hijau Tridharma. Kami berada pada status yang sama yaitu sama-sama abdi negara. Sejak berada pada tempat kerja yang sama maka secara otomatis kami akan sering bertemu.
Kudulunya akan malu-malu ketika bertemu karena Dia senior dan saya junior namun tidak tuk saat ini. Ya mungkin karena saya sudah berubah. Saya bukan seorang Rahmah yang pemalu dan pendiam. Kusadari bahwa telah banyak perubahan pada diriku. Sekarang sudah lebih rame dan periang. Alhamdulillah. Kumerasa lebih nyaman dengan sikapku yang sekarang. Bahkan dengan sikap tersebut kudapat menutupi perasaan sedihku dan tidak menumpahkan kesedihanku pada orang lain. Orang di luar sana cukup meminum madunya saja.

Kupernah dengar bahwa ada sesuatu antara kami. Ya Dia denganku, bukan saya dengan Dia. Dia yang punya urusan. Saya biasa saja dulunya.
Mungkin karena berpikir tentang masa lalu itu sehingga membuatku berprasangka atas perhatian yang diberikannya. Emang ya kalau cewek itu. Jika ada orang yang beri perhatian maka bilangnya  orang itu ada "rasa". Jika tak diberi perhatian maka bilangnya orang itu jahat. Sungguh aneh. Tapi mau gimana lagi. Maka butuh logika untuk merasionalkan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dirasakan.

Setelah kupelajari rupanya perhatian yang diberikan tidak hanya padaku seorang, namun pula pada banyak orang lain. Betapa lugu diriku yang berpikiran macam-macam. Kuyakin bahwa Dia orang yang baik olehnya itu Dia selalu menebar kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Dia merupakan orang yang penuh cinta kasih.

Apakah mungkin apa yang kupikirkan tentang "prasangka itu" hanya sekedar khayalan atau benar-benar kenyataan? Apakah mungkin perasaan yang dulu padaku masih ada atau sudah tidak ada lagi? Ku tak mampu untuk menjawabnya. Karena yang mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya Dia dan Yang Maha Mengetahui.

Kumohon dengan sangat pada jantungku ini agar tak berdetak kencang jika berada di dekatnya.
Kumohon dengan sangat agar tidak salah tingkah jika berada di dekatnya.
Kumohon dengan sangat untuk tidak lagi merindukannya.
Kumohon dengan sangat agar lebih bijak dalam menghadapi segala sesuatunya.    



*Perang ini mulai datang lagi. Apakah kudapat memenangi perang ini?

Ya Allah bimbinglah hambaMu ini pada jalanMu yang benar dan lurus. Hiasilah hatiku dan sikapku dengan keimanan dan berilah hamba kecintaan kepada keimanan. Hanya kepada Engkaulah hamba memohon, meminta perlindungan dan keselamatan dunia dan akhirat. Lindungilah orang-orang yang kucintai dimanapun mereka berada. Aamiin Allahumma Aamiin.




Jalan-jalan ke Pantai Napabale Muna sehabis dari nikahan ka Maria & ka Yashar.
Kostumnya masih kostum pesta. Hehe...


Jumat, 08 Juli 2016

Sepintas Lalu

Bukan karena terpaksa ku menuliskan apa yang terlintas di hati dan pikiran.
Bukan pula karena pelampiasan.
Apalagi pelepas lelah.
Sungguh menulis itu tak sekedar itu.
Kita dapat membuat dunia kita sendiri dengan menulis dan dengan itu sudah cukup.

Ku ingin menuliskan tentang kerinduan.
Kerinduan yang entah kapan dan seperti bagaimana ujungnya.
Nyatanya, kuselalu menahan kerinduan. Memikirkan tanpa aplikasi.
Aplikasi nyata ya dengan komunikasi dengan yang dirindukan.
Namun, tidak denganku. Kutahan kerinduan ini. Karena kutahu dia belum pantas untuk dirindu.
Terkadang, ku bermain tentang kerinduan. Siapa yang menang atau kalah dalam merindu? Ini dapat terlihat dari siapa yang duluan menghubungi.
Tapi, tahukah dia bahwa sebelum dia menghubungi maka saya yang duluan mendo'akan?
Saya tak berhak menghubungi duluan tapi jika untuk urusan do'a maka saya bisa meratui.
Ku tahan rindu itu dan kutuang dalam untaian do'a. Do'a yang terbaik untukmu wahai yang dirindu.
Walau kita terpisah dalam ruang dan waktu. Tapi, do'a dan Allah-lah yang menyatukan kita.
Merindu itu menyakitkan. Sakitnya tersimpan di dalam dada. Rasanya menyesakkan. Tapi sudahlah, sungguh itu tak mengapa. Kita pun masih bisa untuk bersua kan? Bersua karena Allah yang mentakdirkan.

Pertemuan itu akan jadi indah jika memang dilandaskan karena kerinduan dari Allah dan kembali kepadaNYA. Olehnya itu, tiada lagi terucap ataupun tertulis kerinduan itu. Cukup pada kediamanku.

Wahai yang dirindu...tahukah engkau?

 
Kebersamaan dengan keluarga tiada terkira kebahagiaannya. Itulah anugerah terindah dalam hidupku. Semoga Allah senantiasa memberkahiku, keluargaku dan hartaku. Aamiin.

   

Minggu, 03 Juli 2016

Pertemuan Dengan Alumni di bulan Ramadhan 1437 H

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah wa syukurillah hambaMu ini masih diberi umur panjang dan berbagai kenikmatan sehingga dapat bersua dengan bulan suci Ramadhan 1437 H. Sungguh tiada henti-hentinya saya bersyukur padaMu ya Allah atas kesempatan emas dan berharga ini. Tak semua orang bisa berjumpa dan berpelukan erat dengan Ramadhan. Karena sungguh beberapa orang di permukaan bumi dan penjuru dunia disana telah dipanggil oleh Allah Subhanahu Wata'ala dan kembali ke sisiNya. 

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan suka cita, duka cita, perjuangan, dan sejuta rasa yang tertuang menjadi satu dalam hati. Mungkin tak sanggup seluruhnya untuk dinampakkan secara jasadiyah karena cukuplah rohaniah yang menanggung penuh rasa itu. Tak perlu semua orang tahu tentang rasa apa yang sedang dirasakan tapi cukup yang indah saja yang terlihat. Bukan berarti tak mau berbagi tapi tak ingin membuat hati orang lain menjadi ikut gelisah. Olehnya itu bukan kesedihan yang akan kubagi tetapi kegembiraan dan kebahagiaan yang kualami selama bulan Ramadhan. 

Bulan Ramadhan adalah bulan berbagi dengan saudara, bulan yang penuh dengan sosialisasi dan silaturahim. Bulan yang penuh dengan kasih dan sayang. Kata orang bijak: harus dikasih dulu baru disayang. Tentu kupercaya itu. Mana bisa kita menuntut banyak agar orang lain mau menyayangi kita sedangkan kita sendiri tak menyayangi orang lain. Sama halnya dengan mana bisa kita dihargai sebelum kita menghargai orang lain. Olehnya itu, sayangilah, kasihilah dan berbagi kebaikanlah dengan orang lain maka suatu ketika energi positif itu akan kembali kepada kita. Ya mungkin kembalinya tak cepat tapi insya Allah nanti. Apalagi diperkuat dengan suatu hadist sebagai berikut:

Kalian tak akan masuk surga hingga kalian beriman, & tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yg mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi. Sebarkanlah salam di antara kalian. Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah memberitakan kepada kami Jarir dari al-A'masy dgn sanad ini. Dia berkata, Rasulullah bersabda:
Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tak akan masuk surga hingga kalian beriman, sebagaimana hadits Abu Mu'awiyah & Waki'. [HR. Muslim No.81]. 

Bukber Alumni Pengurus MPM Al Zaytun (Azy) Faperta UHO

Sungguh pertemuan ini telah dirancang satu bulan sebelum acara berlangsung. Bahkan telah melewati banyak revisi baik dari waktu, tempat dan orang-orang yang akan berkenan hadir di acara tersebut. Alhamdulillah pada akhirnya acara ini dapat terlaksana juga walau terkesan terpaksa karena katanya khawatir jika anggota keluarga Azy sudah pada mudik. Acara ini telah dilaksanakan di Sari Laut dekat Pasar Panjang Lepo-lepo pada hari Ahad, 26 Juni 2016. Yang hadir pun lumayan banyak dan terutama dan diutamakan hadir adalah kepala RT yaitu kak La Ode Ilmin Yuntafau, SP dan bu wakil yaitu kak Nurhasanah, S.Hut serta anggota-anggota keluarga lainnya yang mana tambahan akhwatnya ada saya dan kak Nur'Azmi Hamid, SP., sedangkan tambahan ikhwan cukup banyak lah yaitu berjumlah 8 orang. Saya ingin menyebutkan satu persatu nama ikhwannya tapi khawatir salah dalam penulisan nama. Jadi totalnya berjumlah 12 orang yang dalam acara buka puasa bersama Alumni Pengurus MPM Al Zaytun Faperta UHO. Alhamdulillah pula dari sana menghasilkan ide-ide yang insya Allah dapat memberikan kemajuan, peningkatan dan berkembang demi ikatan Alumni Azy ini. Tiada lain dan tiada bukan dengan mengharap ridho dan cinta Allah Subhanahu Wata'ala dari habluminnas. Betapa indahnya menjalin ukhuwah dengan berlandaskan cinta karena Allah. Tentu dapat dipahami walaupun kami ikhwan-akhwat itu bersaudara, namun di dalamnya ada batasan dan adab yang telah diatur dalam Islam. Semoga Allah senantiasa memberikan kami menghiasi kami dengan keimanan, memberikan kecintaan dengan keimanan dan menjauhkan kami dari kekufuran, kekafiran dan kemaksiatan. Aamiin Allahumma aamiin.

*Mohon maaf saya telat datangnya tapi saya ikut kan acara intinya yakni diskusi tentang masa depan MPM Al Zaytun Faperta UHO. Jaya dan sukses tuk kita semua. ALLAHU AKBAR...

Bukber Alumni Agroteknologi 2008 Faperta UHO

Kami merupakan angkatan pertama terbentuknya program studi/jurusan Agroteknologi di Faperta UHO. Awalnya masih terpisah-pisah yaitu jurusan Ilmu Tanah, Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, dan Agronomi. Sejak tahun 2008 ketiga jurusan tadi disatukan dalam Agroteknologi, namun ketiga jurusan tersebut menjadi konsentrasi di semester 5 dan 6. Akan tetapi, di tahun 2016 baru lagi dibentuk dengan formasi terpisah-pisah. Selamat ya bagi jurusan Ilmu Tanah yang baru membentuk jurusan tersendiri. 
 
Itulah sekilas info tentang jurusanku. Kini kukembali lagi pada acara alumninya ya. Nah, tuk acara bukber kali ini ada cerita deg-degannya juga. Bagaimana tidak? Tempat janjian yang telah ditentukan ternyata tertutup. Mana janjiannya jam 5-an dan itu sudah pukul 17.15. Sudah telat sih tapi rupanya teman-teman pun baru berkumpul jam segitu dan ikut terkejut melihat tempat tersebut yang tertutup, Kopi Idaman closed. Tentunya mesti ambil ide dan langkah seribu untuk berpindah tempat, mencari alternatif. Untung ada wanita cantik bernama Tina (panggilan akrabnya) yang menemaniku saat itu. Lalu kami berlalu menuju Mie Pangsit 88. Sayangnya disana pun tempatnya tidak kondusif karena sudah full jadi tidak cukup untuk ber-10 orang. Lagi gentingnya mencari tempat, masuk telepon dari wanita cantik lainnya yaitu Merry (panggilan akrabnya) yang saat itu baru pulang kerja dan tempat kerjanya dekat dengan posisi kami berada saat itu yaitu masih di depan Mie Pangsit 88. Kami pun memutuskan untuk terus berjalan dan tidak menunggu kedatangan Merry. Maafin kami ya Merry-chan. Sepanjang jalan kami menoleh kiri dan kanan sembari Tina menghubungi si Merry yang kami tinggalkan. Sudah ada teman-teman yang datang di tempat janjian itu. Mereka pun menunggu hasil dari kami. 
 
Alhamdulillah setelah agak jauh berjalan dengan motor, kami pun menemukan tempat yang cocok yaitu Warung Pojok 1025. Akhirnya nemu juga tempat bukbernya. Maafin saya ya teman-teman karena saya tak mengecek terlebih dahulu tempat itu sebelum membuat janji. Teman-teman yang datang pun cukup banyak. Mereka adalah Agra Ardiansyah SP. (Agra), Asis SP., Mercy SP. (Echy), Agustina SP. (Tina), Yusrina SP. (Rina), Risnawati SP. (InanK), Stefany Darsan SP. (Fany), Sri Wangadi SP. (She), Merry Jusellina Fatunlebit SP. (Merry), Afiati Bahrawi SP. (Fia), dan tentunya saya juga dong Siti Rahmah Karimuna, SP., M.Si.  (Rahmah).
 
Setelah berbuka kami berempat (saya, InanK, Tina dan Fany) bersegera menuju masjid Muadz bin Jabal untuk sholat magrib. Sekembalinya kami dari masjid ternyata ada porsi mie pangsit yang kurang sehingga mie milik Tina diberi ke InanK dan saya berbagi dengan Tina. Lagi asyik menyantap tahu-tahu si Fany memberikan sepertiga bagiannya kepadaku. Wah wah.... ini namanya anugerah walaupun sedikit berat menghabiskan. Walaupun hari itu tak berpuasa tapi tetap saja saya ikutan puasa juga. Tak berpuasa tapi sudah bisa sholat magrib. Hehe...
 
Acara ini telah berlangsung pada hari Rabu, 29 Juni 2016. Sesungguhnya acara ini dipelopori oleh Tina walau ia tak mengaku. Tak hanya Tina tapi juga ada Fany dan Denih yang baru balik dari daerah rantauan. Jadi kami berinisiatif untuk ketemuan sebelum balik ke rumahnya di kampung. Tapi sayang, mas Denih (Denih Wahyudin, SP.) tak datang karena pesawatnya baru tiba magrib jadi ia memutuskan untuk langsung mengarah ke rumahnya di Abuki, serta kawan-kawan lainnya yang sebenarnya masih ada di Kendari tapi tak sempat untuk datang. Sedih sih tapi tak mengapa.
Yang penting ratu hatiku (nunjuk InanK) bisa datang. Dapat kukatakan bahwa suatu anugerah terindah ia bisa datang di acara bukber alumni. Senang sekali rasanya. Karena biasanya ia tak bisa hadir karena suatu alasan. Terlihat dari bukber Alumni Pengurus MPM Azy ia tak datang. Tapi kali ini ia bela-belain datang loh. Yeeeaah... Upss....alhamdulillah...
 

Sebelum balik dari tempat berbuka, kami sempetin aja tuk berfoto di depan tempat itu. Tahu-tahu pemilik warungnya mematikan lampunya alias kami diusir karena berisik. Hihihi... kami tetap kekeuh dan meminta kesempatan tuk berfoto kedua kali. Hasilnya lebih cantik kan...
 
Bukber Alumni SMPN 10 Kendari 2005

Kali ini saya pun masih menyempatkan diri untuk mengikuti acara buka puasa bersama dengan Alumni SMPN 10 Kendari 2005. Sungguh ini baru kali pertama saya ikut setelah 11 tahun kami tak bertemu sejak lulus SMP. Kalau teman-teman yang dekat rumahnya di perdos mah saya bisa sering bertemu. Namun akan berbeda pada teman-teman yang sudah menikah, kerja di luar kota dan walaupun menetap di Kendari tapi memang benar-benar tak pernah bertemu. Alhamdulillah banyak pula yang hadir. Walaupun mereka datangnya telat sih. Janjinya jam 5 dan saya datang jam setengah 6, namun parahnya ada yang datang setelah magrib. Hikss.... Jadilah saya princess yang tercantik diantara para pangeran. Hihihi... Untungnya sahabatku Bunda Siska datang di waktu yang tepat. Sungguh ia tak berubah. Badannya tetap begitu aja walau sudah punya 2 orang anak. Walau kedatangannya pun dengan sedikit tragedi. Dia diantar oleh sahabat kecilnya bernama Syamsul Bahri (Ancu). Ya mungkin karena si Ancunya ini grogi bawa motor bersama wanita cantik dan sahabat lama yang baru kali itu juga ketemu, menyebabkan lengan jaketnya terlindas terali motor. Wah tragisnya jaketnya itu. Mana si Ancunya bilang ia habis membonceng Ibu-ibu yang terkesan gemuk sehingga bajunya menjadi rusak seperti itu. Hmmm...ada-ada aja ya. 
 
Kami kembali memflash back kejadian di waktu SMP. Walau kadang tak semua memori kembali dalam ingatan. Saya senang sekali bisa bertemu kalian di Kedai Kopi Son pada hari Jum'at, 1 Juli 2016. Semoga kita bisa menjadi orang-orang sukses dan mampu mensukseskan orang lain juga. Aamiin.          

 Princessnya alumni 2005

Maaf ya saya balik duluan jadi mukaku tak nampak di foto ini. Hehe... Maap.

Foto eksis dengan sahabat yang udah 11 tahun tak ketemu. Makasih sayang... Kiss by.
Tersenyumlah agar dunia pun ikut tersenyum... senyum yang ikhlas tentunya...


              

Kamis, 23 Juni 2016

Diam-diam Simpatik

Mulanya kubertemu dengan orang itu rasanya biasa saja. Kenal pun cuman tahu muka doang. Lalu karena teman-teman sering memanggilnya sehingga tanpa sadar dan dengan sendirinya kumenjadi tahu siapakah nama orang itu.

Suatu ketika kubertemu dengan orang itu di sekolah. Tentu saja kuterkejut. Kukira orang itu bekerja sebagai buruh bangunan di sekolah itu. Eh ternyata salah. Tahu-tahu siswa-siswi memanggil orang itu dengan sebutan "guru". Oh orang itu guru toh rupanya. Iya sih orang itu memang nampak lembutnya. Alhamdulillah kan dan itu namanya anugerah Ilahi. Hehe... jadi muji orang itu deh.

Saya kan termasuk guru pendatang baru di sekolah itu dan alhamdulillah bisa cepat membaur dengan guru-guru lainnya. Ya memang guru-guru di sekolah itu kece-kece abis lah. Lalu di hari awal kerja dan tiap ketemu orang itu saya berilah senyuman manisku. Sayang senyuman itu tak dibalas senyum manis juga. Cuman balasan tatapan mata yang kosong alias tak memiliki arti alias bingung lah mengartikan apa maksud tatapannya.
Karena tiap kali tersenyum tak direspon baik maka sejak saat itu saya tak lagi menebar senyum pada orang itu. Bahkan jikalau mau berpapasan maka saya tunduk aja. Jika berada pada ruangan yang sama maka kuanggap orang itu tak berada disitu. Mungkin sikap dinginnya itu adalah teguran bagiku agar tak menebar senyum pada lawan jenis. Tetep positif thinking aja lah. Hehe... 

Selang beberapa waktu kemudian terjadi tragedi yang menyangkut amanahnya di struktur. Orang itu punya amanah maka begitupun denganku yang dipercayakan dengan amanah itu. Saya sudah meminta izin pada kedua bidang di struktur itu tapi sepertinya itu tak diterima oleh ketua bidang yang lain. Saya cuman bisa pasrah karena tak tahu mesti berbuat apa. Kuserahkan persoalan itu pada ketua bidangku karena saya bertugas sebagai anggota. Sejak tragedi itu saya jadi agak minder sama orang itu. Kalau bisa jangan sampai ketemu deh.

Namun, takdir berkata lain dengan mempertemukan kami kembali pada amanah di bidang yang sama di bulan Ramadhan 1437 H. Allahu Akbar. Memang ya kalau sudah saudara maka takkan bisa putus kecuali kafir dan kematian. Orang itu memang nyaman diajak kerjasama. Lagipula orang itu lebih dulu terjun pada amanah itu jadi tentu saya mesti belajar dari orang itu.

Pernah ya suatu ketika saya datang ke sekret siang-siang lalu meminta izin untuk dibukakan pintu. Biasanya ya kalau ada akhwat yang datang maka ikhwan kan mesti pura-pura tak lihat kek, pura-pura tak kenal kek atau pura-pura apalah itu. Eh dia mah beda. Malah saya dilihatin mulu, kan jadi saling menangkap pandangan. Saya kan tak sengaja melihat. Kalau orang itu sengaja or tak sengaja saya tak tahu lah. Maksudku mengapa ia tak pura-pura aja. Ya mungkin karena ia refleks melihat sumber suara salam kali ya. Hehe... mulai kegeeran deh saya. La la la la la...

Sekarang saya sama orang itu sudah lebih cair alias tak kaku lagi. Kadang panggil "akh", "pak guru" atau langsung panggil nama. Tergantung apa yang dipikiran dan terucap di lisanku ini. Yang penting tidak panggil cin, say atau panggilan sayang lainnya. Kan bisa berabe jika macam itu. Hahaha...

Kalau ingat orang itu seolah ingat adikku sendiri. Untungnya macam begitu. Jangan sekali-kali berulah. Cukuplah dengan ulahku yang kemarin-kemarin itu.

Salam semangat dan kasih dari Rahmah Sholeha untuk "orang itu".  

Hari Kartini di Sekolah, main-main balon lah kita

Studi Wisata Alam di Pantai Nambo, belajar dan bermain sungguh mengasyikkan

Kamis, 10 Desember 2015

LINTASAN PIKIRAN



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
08 DESEMBER 2015
@Mushola Azy

Jauh sebelum ini, pemikiran atau ide untuk menulis telah ada, tetapi baru kali ini kesempatan itu ada. Kutahu menyimpan ide dalam pikiran itu bukanlah langkah yang bijak. Kutahu bahwa tulisan itu dapat mengikat ingatan. Akan tetapi apadayaku jika baru kali ini kuluangkan waktuku. Bukan berarti menulis itu tidak penting ataupun tidak berharga bagiku, tetapi masih ada hal lain yang mendesak dan penting yang harus dikerjakan. Nah, kadang hanya karena fokus pada suatu kerjaan dan telah selesai mengerjakannya sehingga pekerjaan yang telah direncanakan menjadi terlupakan. Mungkin bisa dikata sudah tidak mood lagi. Yah mungkin lagi karena saya tergolong orang yang moody. Tentu moody itu bukan hal yang dibuat-buat. Hal tersebut datang secara alamiah.

***
Termenung dalam lamunanku. Tersadar ketika waktu tak lagi pantas untuk berdiam diri.
Entah mengapa ketika bertemu dengannya perasaan gelisah muncul lagi. Rasa deg-degan pun ada, namun tentu itu tak seperti dulu. Sejak berada di daerah rantau saya telah melepaskannya. Melepaskan dalam arti bahwa silahkan dia menentukan jalannya sendiri. Saya sudah tak lagi menagih janji yang telah dibuat dan disepakati bersama. Yang kupahami adalah kesepakatan bersama itu hanya berlaku selama 2 tahun, sejak bulan Pebruari 2013 dan berakhir bulan Pebruari 2015. Sekarang sudah memasuki awal bulan Desember 2015. Telah berlalu selama 10 bulan dan itu bukanlah waktu yang singkat tetapi belum cukup untuk memulihkan dan mensterilkan hati. Sudah kuingatkan pada hati dan diri ini bahwa JANGAN PERNAH JATUH CINTA PADA SESEORANG YANG BELUM HALAL BAGIMU. Kalimat ini sudah berulang-ulang kuucapkan pada diriku sendiri. Nah terimplikasi pada bulan April 2015. Senang rasanya ketika kumencoba untuk bangkit dan berusaha mencoba menjadi lebih baik. Bahkan masih kental dalam pikiranku bahwa saya adalah seorang muslimah dan seyogyanya untuk selalu mengejar cintaNYA dan cinta Rasul. Mengejar cinta itu cukup mudah dan cukup sulit pula karena hanya dengan mengerjakan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Teringatku pada hadist Rasulullah bahwa “surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh manusia dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disukai oleh manusia”. Tentu ini berkaitan dengan hawa nafsu. Apa-apa yang tidak disukai dan disukai oleh hawa nafsu. Selain itu, Allah pun tak menyukai sesuatu yang berlebihan.
Alhamdulillah hubungan kami tetap berjalan baik dan tentunya masih dalam koridor Islami. Jikalau saya lupa maka ia mengingatkan dan jikalau dia yang lupa maka saya pun yang mengingatkan. Sejak akrab dengannya ketika mengikuti komunitas bokashi-ers maka sejak saat itu kami intens berkomunikasi. Yang saya bingungkan ketika itu adalah ketika komunikasi via sms maka seolah itu cair dan santai. Namun, ketika bertatap muka atau secara langsung entah mengapa seolah ia dingin. Padahal saya kan tetap biasa saja.
Hal itu tak kuambil hati, pusing atau apapun itu. Agaknya saya kurang peduli dengan yang seperti itu. Asalkan saya tak menyakitinya ataupun berantem dengannya.
Dia adalah abang bagiku. Menurutku ia adalah satu-satunya kakak cowokku. Kakak yang kuangkat ketika ketemu gede. Lucu sih tapi itu yang membuatku nyaman dan sekali lagi tak berbuat macam-macam.
Namun, setelah waktu berjalan dan ku berada jauh dengannya, sedikit demi sedikit saya membatasi komunikasi. Sedikit demi sedikit kumenyadari apa yang selama ini kulakukan adalah salah. Salah karena telah mengganggunya. Mengganggunya sehingga ia menjadi lebih dekat denganku dan menyebabkan adanya percikan-percikan cinta di antara kami. Cinta yang tidak seharusnya ada di antara dua insan manusia yang berlainan jenis yang belum memiliki ikatan suci. Jikalau memang ia serius padaku maka ketika kita berpisah selama 2 tahun 9 bulan maka ia akan berusaha melayakkan diri untuk menemui orangtuaku dan berbicara serius dengan mereka berkaitan dengan masa depan kami. Namun, ketika kusampai disini di tanah kelahiranku tanah tempat kita bertemu, ternyata belum ada kemajuan. Bahkan mungkin masih jauh dari kata perkenalan dengan orangtua. Saya sedih dan kecewa melihat itu, tetapi kesedihanku lebih besar dari kekecewaanku. Mengapa bisa seperti itu? Kecewa yang muncul itu dan berukuran kecil dibanding sedih karena harapanku padanya pun sudah menciut. Dimakan oleh waktu dan do’a/pengharapan yang tulus ikhlas pada masa depan yang cerah. Sedih karena saudara yang selama ini mendukungku berjuang telah terpuruk sendirian tanpa saya di sisinya. Di sisinya dalam artian saya menemaninya dalam perjuangan meniti studi, dakwah dan sebagainya atau setidaknya menanyakan kabar pada segala kondisinya. Yah, itu tak kulakukan karena kutelah memilih membatasi komunikasi. Maafkan saya yang memilih jalan seperti ini karena yang kupahami ini untuk kebaikan kita bersama wahai saudaraku.

Semangat berjuang dan tetap istiqamah di jalanNYA. Jangan saudara lunturkan sifat-sifat bijak, berkarakter mulia, rendah hati, berbudi luhur dan dermawan yang telah tertanam dalam diri saudara. Kutahu diluar sana dunianya keras, tetapi jangan sampai ia merubahmu menjadi kerdil. Jadilah orang yang besar, berjiwa besar, berpikiran besar dan berlaku orang besar.

Saya tetap merindukanmu dalam do’aku wahai saudaraku.     


07/11/2015 @ Kebun Raya Bogor


 15/11/2015 @ Pelataran MTQ Kendari

Serpihan Perjuangan demi Masa Depan



Bogor, 6 Maret 2015, pukul 10.49 WIB @ Depan Ruangan Pembimbing

Harap-harap Cemas, Penuh Perjuangan
Pagi ini matahari seolah malu-malu menampakkan cahayanya
Beberapa saat menggunakan sapu tangan awan untuk menutupinya
Begitupun denganku yang agaknya enggan untuk bergerak menjauh dari pembaringanku
Mungkin karena kebiasaan burukku sehingga kelakuanku ini kuanggap biasa saja
Namun jikalau dipikir-pikir, kebiasaan buruk ini berdampak pada kesehatanku dan menurunkan daya ingat otak. Tapi ini mungkin karena saya belum membacanya lebih lanjut, hanya sekedar hipotesis belaka
Pagi ini ku memutuskan untuk sarapan potongan roti sisa cemilanku semalam yang ditemani suguhan teh hangat
Kumelahapnya dengan semangat dan tak lupa membaca do’a sebelum makan
Belum habis teh itu kuminum, kusudah mengarah ke tempat setrika yang tak jauh dari sisi dudukku di lantai kamarku.
Biasanya sih saya menyetrika jauh hari sebelum ke kampus, namun kali ini dikarenakan banyak kerjaan atau kesibukan menyibukkan diri sehingga telah menjadi kebiasaan baru lagi yaitu menyetrika sebelum ke kampus atau keluar ke tempat yang jauh.
Saatnya ku berangkat ke kampus tepatnya pukul 09.05 WIB dan alhamdulillah tak lupa sebelum keluar kamar yakni sholat dhuha 2 rakaat. Jalanan yang kupilih mengarah ke gedung pascasarjana. Hari ini agendanya cukup banyak, diantaranya: menanyakan jadwal seminar untuk ilmu tumbuhan di hari senin, 16 Maret 2015; print out hasil revisi bahan seminar; konsultasi bahan seminar lagi ke pembimbing 1 dan 2; dan meminta kesediaan mereka untuk seminar di waktu dan tempat yang tersedia di pascasarjana, serta jikalau semua urusan selesai maka pergi menemani kak Medal ke grapari yang bertempat di kota Bogor.
Hmmm....lumayan juga ya agenda hari ini.

~Ku menyusuri jalan dan singgah ke salah satu kios dekat kosan untuk membeli aqua. Minuman ini sudah menjadi barang wajib tiap kali ke kampus. Karena jikalau tidak dipersiapkan dahulu maka kehausanlah yang kudapat.
Selangkah demi selangkah kuberjalan dan keluar dari gang kecil kemudian menyeberang jalan menuju gerbang pintu utama masuk IPB. Jalanan di sekeliling pintu masuk telah dibersihkan oleh cleaning service kampus.
Kumelewati pos satpam depan gerbang. Hmmm...sepertinya mereka itu tak dapat lepas walau sedetik dari aktivitas merokok. Cukup menyebalkan, karena asap rokoknya merusak udara segar di sekitar taman hutan kampus.

~Tibalah ku pada ruangan yang kutuju yaitu ruangan pelayanan akademik pascasarjana IPB. Tak lupa saya mengambil nomor urut 19 dan ternyata itulah nomor urut pertama. Lalu kubertanya pada salah seorang pegawai bahwa pada hari senin depan apakah masih bisa mendaftar seminar dan jam berapa bisanya? Bapak pegawainya hanya menyodorkan isian pendaftaran seminar. Kemudian, kucek dan ricek dan arah pandanganku tertuju pada kolom senin, 16 Maret 2015 dan disana masih kosong pada pukul 14.00-15.00. Segera kukembalikan kertas isian itu dan saat mau pergi, kembali kubertanya, dimana ruangannya ya pak? Ruangan 405, jawab beliau. Dengan langkah semangat dan agak terburu-buru, saya menuju tempat print out untuk mencetak bahan seminar. Kulewati lorong demi lorong,  gedung demi gedung. Kuhindari melewati jalan keramaian karena saat itu saya sungguh terburu-buru. Ibarat main game itu, kadang saya melambung, kadang agak melambat, pembelokan tajam dan balap. Hihihi....
Setibaku pada tempat memprint, saya agak terdiam sejenak karena melihat komputer sudah pada terisi oleh pengunjung. Alhamdulillah tak lama kemudian seorang cewek beranjak dari tempat duduknya dan telah menyelesaikan urusannya. Segera kumengambil posisinya dan menyelesaikan urusanku. Memprint 3 rangkap plus gambar berwarna maka cukup dengan membayar Rp 12.000,00. Sayangnya, karena tak punya uang Rp 3.000, sehingga mengutang Rp 1000 deh di tempat itu.
~Langkah cepat dan sigap selalu membersamaiku dan menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai 3. Ku melihat sampah berserakan depan pintu laboratorium benih dan melewati seorang cowok berkaca mata yang sedang duduk di kursi lorong sambil sibuk memperhatikan selular genggamannya. Saat itu, beberapa sudut gedung masih sepi, sekiranya memang seperti itu di saat jam kuliah karena jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Setibaku di ruangan pembimbingku, ternyata mereka sedang tidak berada di ruangan kerja. Para pembimbingku memiliki ruang kerja yang sama dan meja kerja yang saling berhadapan. Kuputuskan untuk menengok ke ruangan komdik pasca AGH, ternyata pembimbing 2-ku pun tak berada disana. Sedih rasanya. Namun pada ruangan yang besar itu yang hanya dibatasi dinding, duduk seorang Ibu dosen. Beliau adalah murabbiku (MR) di Bogor ketika semester 1-2, namun sejak bulan maret 2014, saya telah memutuskan untuk vakum alias berhenti. Saya pun punya alasan atas keputusanku itu. Alhamdulillah hubunganku dengan teman seliqoan dan MR-ku itu tetap baik-baik saja. Begitulah seharusnya.
~Sms pertanyaan untuk bertemu para pembimbingku pun segera kulayangkan via sms untuk mengurus berkas pendaftaran seminar. Saya membutuhkan tandatangan mereka untuk melengkapi berkasku. Pembimbing 2-ku kebetulan sebagai ketua PS. Pembimbing 1 tak membalas sms-ku dan pembimbing 2-ku membalas cukup lama dan beliau mengatakan tidak ke agh. Setelah lama bersms-an dengan pembimbing 2 dan saya tetap menunggu di depan ruangan kerja mereka, tiba-tiba datanglah pembimbing 1-ku dengan agak terburu-terburu karena akan segera mengikuti rapat. Kurangtahu rapat apa. Karena saya kurang fokus jadi saya salah tingkah. Untung Ibunya tidak keberatan dan saya menyodorkan berkas bahan seminarku sebelum saya masukkan ke akademik pascasarjana. Alhamdulillah beliau sangat pengertian.
Masuklah sms pembimbing 2-ku bahwa sekiranya butuh tandatangan maka bisa ke Baranangsiang (BS) atau ketemu besok saja. Saya sempat terhenti sejenak untuk berpikir. Apa yang mesti kupilih di saat yang sempit ini. Alhamdulillah saya bertanya beberapa hal mengenai isian biodata seminaris pada seorang teman pasca dan si kakak cukup membantuku dengan baik. Untuk menyatakan saya bisa ke BS maka kutelepon beberapa teman yang memiliki motor dan berkenan mengantarku ke rumah beliau. Saat itu telah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Alhamdulillah ada salah seorang teman yang bersedia, namun ia hanya memiliki 1 helm. Alhamdulillah dapat pinjaman helm pada salah seorang teman di laboratorium pasca yang sedang sibuk membantu penelitian teman dekatnya. Motor temanku itu disimpan di kosannya sehingga kami ke kosannya lalu pergi ke BS. Setelah sholat zduhur maka kami bersiap-siap berangkat. Namun tiba-tiba ada telepon dari pembimbing 1 bahwa segera ke ruangan beliau sekarang juga karena jam 1 akan ada rapat lagi. Saat itu sudah menunjukkan pukul 12.35 WIB. Rasanya saya tidak tenang dan ingin segera ke kampus. Saya mengingatkan ke temanku dan meminta maaf bahwa saya mesti singgah ke kampus dulu untuk ketemu pembimbing 1 di kampus. Alhamdulillah temanku yang 1 ini sungguh sangat baik hati dan saya do’akan semoga segala urusannya lancar dan sukses serta dilimpahkan rezeki olehNYA. Aamiin.
Karena jalanan dekat kampus cukup padat kendaraan maka saya memutuskan turun pada tempat parkiran ilegal. Ilegal karena berhenti pada bukan parkiran umum alias parkiran tempat memprint. Saya segera berjalan sedikit berlari kecil menuju ruangan kerja pembimbing 1-ku. Disana saya diperlihatkan hasil revisi bahan seminarku yang menurutku itu cukup banyak dan segera memperbaikinya. Ibunya yakin saya bisa memperbaiki itu segera sebelum dimasukkan ke pelayanan akademik dan saya memberitahukan beliau bahwa saya akan ke BS dan ke rumah pembimbing 2. Saya sangat berterima kasih pada pembimbing 1 dan 2-ku atas pemakluman dan pengertian mereka. Karena ini pula saya memiliki keyakinan untuk memasukkan jurnalku ke jurnal internasional asuhan departemen AGH. Semoga jurnal bisa segera dipublish ketika telah dimasukkan karena cuman sedikit perbaikan saja dan reviewernya cepat menelaah revisi jurnalku. Aamiin.
Pembimbing 2-ku mengirimkan alamat rumah beliau karena mengetahui bahwa saya naik motor. Cukup bertanya pada 4 orang yang diketemui di jalan maka sampailah saya di kediaman pembimbing 2-ku dengan arahan sms yang dikirimkan beliau sebelumnya. Ketika sampai disana, Ibu pembimbing 2-ku terlihat pucat dan lemas namun beliau tetap menjamu kami dengan ramah. Temanku dengan polosnya melepaskan sepatunya ketika menginjak teras rumah beliau. Rasanya lucu tapi sudah seperti itu rasa sungkan temanku pada beliau. Setelah beliau tandatangan pada kolom anggota pembimbing dan ketua PS maka saya dan temanku memutuskan untuk segera balik lagi ke kampus. Saya sangat berterima kasih atas bantuan pembimbing-pembimbingku. Oleh karena itu, saya berharap bahwa seminarku dapat berjalan dengan lancar dan sukses, semua pertanyaan dapat terjawab dengan baik dan saya cukup mengerti dengan baik apa yang saya tampilkan pada saat seminar nanti. Aamiin ya Allah.

~ Temanku itu bertanya ketika berhenti di lampu merah: jam berapa sekarang, mba? Jam 2, jawabku. Motor melaju hingga rasanya hampir terbang. Temanku sangat mengerti dengan posisiku saat itu, bahwa saya sedang mengejar waktu untuk menyetor berkas ke pascasarjana sebelum tutup loketnya. Karena cukup balap laju motor sehingga hampir menyentuh motor lain yang sedang menyeberang jalan dengan paksa dan padatnya kendaraan. Kejadiannya sudah memasuki wilayah Darmaga. Mungkin setengah jengkal lagi motor kami menyentuh motor bapak itu. Tentunya kami dan bapak pengendara motor itu sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Namun, saya pun tak boleh berkata macam-macam karena khawatir mengganggu konsentrasi temanku yang mengendarai motor. Saya cukup membenarkan apa yang dikatakannya karena sudah seperti itu adanya. Kemudian, saya mengingatkan kembali bahwa saya mesti singgah ke tempat fotocopy. Temanku itu cukup memberhentikan motornya percis di seberang jalan tempat fotocopy. Saya sangat berterima kasih padanya atas perjuangan hari ini. Bayangkan saja, saat siang-siang saya mengajaknya ke BS sementara ia sedang berpuasa. Subhanallah ya...seorang wanita sholehah yang bahkan bidadari pun cemburu padanya. Aamiin.  

~Alhamdulillah saya berhasil memasukkan berkas ke pelayanan akademik pasca dengan mahasiswa yang dilayani terakhir. Alhamdulillah pegawainya pun cukup membantu dan menyarankan beberapa hal agar seminarnya bisa berjalan dengan baik. Saat pulang, rasanya kepala mulai pusing karena belum makan siang. Saat melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB, saat sholat ashar, namun perut sudah kelaparan berat. Alhamdulillah menu kesukaanku di kantin sapta Fateta masih ada. Sebenarnya saya mau memesan 2 porsi soto tapi bukan saatnya makan banyak karena perut telah makan jadi mesti dengan porsi cukup saja, tak boleh berlebih. Walaupun menurutku lambungku sudah terbiasa dengan porsi besar. Hehe... Kata si kakak melalui wa mengatakan bahwa segera istirahat dan jika minta bantuan bisa melalui beliau, moga lancar dan sukses semua urusannya. Aamiin. Saya pun sangat berterima kasih sama si kakak. Alhamdulillah bisa memiliki orang-orang luar biasa di saat genting seperti tadi itu. Alhamdulillah wa syukurillah. ^_^
Dalam hati sudah mengingatkan untuk sholat, tapi karena kondisi tubuh yang penuh keringat makanya rasanya sangat tidak nyaman, pingin pulang mandi lalu sholat, insya Allah. Bukannya langsung segera pulang, eh malah singgah di lab. pascapanen untuk mengembalikan helm pinjaman tadi ke motor teman. Sebelum balik saya ditawari manggis manis dan agaknya saya cukup mengusik si peneliti dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya saya juga tak tahu jawabannya dan agak menguji. Saya pun minta maaf karena tidak membantu dan cukup mengganggu. Saya pamit dengan baik-baik dan mengambil helm lalu mengarah ke tempat parkiran motor teman tersebut.
Saat perjalanan pulang ke kosan saya mengirimkan ucapan terima kasih pada teman yang telah mengantarku ke rumah dosen tadi.

Hari ini cukup melelahkan dan penuh perjuangan, kataku dalam hati. Hmmm....  



Tulisan ini dilanjutkan pada pukul 12.48 dan selesai pada pukul 19.22 WIB @ kosan tercinta.
             
 Usai seminar hasil 16/03/2013

  



Lembaran Penjalanan Hidupku



"ISLAM MATAHARIKU”

Saya terlahir dan dibesarkan dari keluarga muslim sehingga membawaku dalam berpikir, bersikap dan bertutur kata Islami. Sungguh inilah kenikmatan tiada terkira dan terbesar dalam hidupku yaitu kenikmatan keislaman dan keimanan. Ketika duduk di bangku SD kelas 5, saya mulai mengenakan hijab. Kerudung yang kukenakan pertama kali saat berangkat ke sekolah yaitu berwarna pink. Warna yang begitu kusukai. Memang saya telah berhijab saat itu bersama seorang temanku, akan tetapi gaya tomboy atau kelaki-lakian itu tetap melekat padaku. Saya masih sering panjat pohon yang berbuah (gersen, mangga, jambu batu dll), pakai celana borju (celana laki-laki yang punya banyak kantong), main kasti dengan laki-lakinya di sekolah, main gebo/main raja-raja, main wayang dan permainan lainnya semasa kecil dulu.
            Alhamdulillah wa syukurillah lingkungan tempat tinggal saya merupakan lingkungan Islami, bahkan saat SMP itu saya telah mengikuti kajian dari Wahdah oleh Lembaga Kemuslimahan, saat itu Ketuanya adalah Ummu Ahmad. Banyak hal yang telah diperoleh yaitu belajar ilmu tajwid, ilmu tauhid, kajian fiqih dan masih banyak lagi. Seru-seru dan asyik pokoknya. Saat itu dalam kelompok kajianku terdiri dari 9 orang yang semuanya merupakan anak-anak dosen dan tetangga rumah, termasuk kakakku. Dengan melihat perubahan yang baik bagi kami (saya dan kakakku) membuat mamaku merasa tenang ketika mengizinkan kami untuk keluar rumah dengan tujuan kerja tugas di rumah teman, menghadiri ulang tahun ataupun ada kegiatan yang mengharuskan bermalam di tempat kegiatan. Ada sebuah nasehat dari mamaku: “kita boleh mengikuti suatu kajian tetapi jangan sampai menyakiti hati orang lain, silahkan ikut tapi tidak perlu sampai  bercadar segala. Yang penting ibadah kita jalani seperti sholat, mengaji, puasa dsb, serta kita pun tidak membatasi sosialiasi dengan orang lain apalagi keluarga”.                    
            Saat duduk di bangku SMA saya pun tetap memegang teguh ilmu agama yang telah terpatri dalam hati, pikiran dan perbuatanku. Saya tetap dengan hijab yang saya kenakan, tetap dengan kediamanku, tetap dengan enggan menyentuh teman laki-laki baik mau sengaja ataupun tidak. Tetapi ketika bertemu dengan bapak guru maka saya akan bersalaman dengan beliau. Entah ini terkesan lucu atau pun aneh, saya teringat sebuah kebiasaan saya bahwa ketika saya membayar angkot dan bersentuhan dengan tangannya pak sopir atau pun tanpa sengaja menyentuh kulit teman laki-lakiku maka segera setelah itu saya me-lap tangan saya entah di baju ataupun rok dengan tidak dilihat oleh mereka agar sentuhannya tidak berbekas ke tanganku. Saat itu pula saya merasa perlu mencari teman yang memiliki pemikiran yang sama denganku, teman yang bisa selalu mengingatkanku ketika salah, teman dengan tingkat intelektual tinggi dan agamanya pun mantap, teman yang juga mengenakan hijab, teman yang dalam kesehariannya bernuansa Islami. Sejak saat itu saya mengikuti salah satu organisasi di bawah OSIS yang bersifat kerohanian yaitu PRISMA (Perhimpunan Remaja Islam SMAN 1 Kendari). Alhamdulillah saya diamanahkan sebagai bendahara dan Alhamdulillah dapat predikat sebagai bendahara terbaik di tingkat MPK yang berada di atas OSIS. Saat itu dan entah sekarang bagaimana, organisasi ini berada dalam naungan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang karena ketuanya pun kajian pada harokah ini. Saya pernah mengikuti kajiannya selama dua kali pertemuan. Saya pun pernah mengikuti organisasi di luar sekolah yaitu ISMI (Ikatan Silaturahim Muslim Indonesia), yang anggota ataupun pengurus intinya didominasi dari siswa SMAN 1 Kendari, SMAN 4 Kendari, serta sedikit dari SMAN 9 Kendari dan SMAN 3 Kendari. Saya cukup merasa asing dengan perbedaan yang ada padaku yaitu teman-teman mengenakan pakaian terusan yang mereka sebut dengan jilbab sementara saya masih dengan pakaian potongan yang tentu saja tidak tipis dan tidak ketat. Pemahaman yang ada pada mereka tidak sampai padaku secara penuh sehingga selang beberapa waktu ketika menginjak kelas 3 yang saat itu cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran dalam mempersiapkan ujian akhir sekolah, saya pun tidak tergabung dengan mereka lagi.
            Inilah kampus yang telah kuidam-idamkan untuk kuliah disini. Kampus yang setiap hari kulewati ketika akan berangkat ke SMA dulu selama 3 tahun dan akhirnya saya terdaftar sebagai mahasiswa UNHALU. Saat jalan-jalan ke fakultas yang akan menjadi perjalanan hidupku nanti, saya bertemu dengan seorang wanita yang sama-sama sebagai mahasiswa baru di faperta yang ternyata sejurusan denganku, seruangan kuliah, seorganisasi denganku, sekelompok tarbiyah denganku dan bahkan hingga saat ini ia menjadi sahabat terbaikku dan semoga kami bisa dipertemukan di surga-Nya kelak. Aamiin… Di perguruan tinggi ini pun saya sangat tertarik untuk mengikuti organisasi intra terutama MPM Al Zaytun Faperta (Mahasiswa Pecinta Mushola Al Zaytun Fakultas Pertanian). Saya sangat tertarik karena ketika saya sedang mengikuti OSPEK, senior yang membantu dalam mengerjakan tugas, memberikan motivasi, menumbuhkan keberanian dan memberikan kenyamanan adalah mereka (pengurus/anggota MPM) ketika awal masuk kampus. Mereka jugalah yang mengantarku pada tarbiyah. Yang dengan tarbiyah ini sehingga saya bisa mempertahankan keimanan dan sekiranya mampu meningkatkan kualitas imanku. Hal ini seumpama hp dan manusia, hp itu harus selalu di-charge ketika lowbath. Iman itu bak baterainya karena iman seseorang itu kadang turun dan kadang naik, sama dengan baterai kadang full dan kadang low, sehingga manusia itu harus selalu ikut tarbiyah sebagai alat penge-charge hati/imannya agar tetap terkontrol. Saya membayangkan jika saya tidak ikut tarbiyah maka saya tidak lagi enggan dengan laki-laki, saya bisa mudah terpengaruh karena kurangnya ilmu agama dan akibat buruk lainnya yang sungguh sangat tidak diharapkan. Na’uzubillah...                            
            Saat ini saya telah menginjak tahun ke-empat, waktu dimana kebanyakan mahasiswa berlomba-lomba menyusun skripsi. Begitupun denganku. Penelitian pun telah kujalani selama 7 bulan sejak penyusunan proposal hingga berakhirnya penelitianku. Semua itu tidak akan bisa kulewati tanpa bantuan dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, keluargaku tercinta terutama Mama dan Bapakku, dan teman-temanku yang kusayangi karena Allah Ta’ala. Ada hal yang saya baru pahami ialah perjuangan da’wah ini butuh banyak pengorbanan baik harta, waktu bahkan jiwa sekalipun. Kemudian saya melihat ada beberapa teman seperjuangan yang rela mengorbankan waktu kuliahnya dengan menunda skripsi untuk tetap memegang amanah dalam menyebarkan kebaikan di lingkungan kampus. Sedangkan saya, apa yang telah saya berikan untuk da’wah ini? Dengan melihat potensi yang ada pada diri ini maka apa yang perlu diandalkan. Saya berencana untuk melanjutkan studi S2 ke salah satu perguruan tinggi di Indonesia ataupun di luar negeri sebagai jalan dalam perluasan da’wah dan mencari link bagi kemajuan da’wah di daerah. Semoga Allah menjabah do’a dan rencanaku ini. Aamiin…

             
    
Riwayat Hidup Penulis:
            Nama lengkap penulis adalah Siti Rahmah Karimuna dan biasa dipanggil Rahmah. Penulis dilahirkan pada tanggal 7 April 1991, di Kendari, Kecamatan Mandonga, Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara. Penulis adalah anak kedua dari empat bersaudara, putri dari La Karimuna dan Siti Sarfiah.
            Pada tahun 2002 penulis lulus dari SDN 1 Kambu. Tahun 2005 lulus dari SMPN 10 Kendari, dan pada tahun 2008 lulus dari SMAN 1 Kendari. Pada tahun 2008 penulis diterima menjadi mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo (UNHALU) melalui jalur PPMP. Cukup itu aja ya… tiada hal menarik lainnya dari penulis. Hehehe….

04/11/2012 @ Kendari

 30/06/2012 @ Bintang Samudera