Kamis, 10 Desember 2015

LINTASAN PIKIRAN



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
08 DESEMBER 2015
@Mushola Azy

Jauh sebelum ini, pemikiran atau ide untuk menulis telah ada, tetapi baru kali ini kesempatan itu ada. Kutahu menyimpan ide dalam pikiran itu bukanlah langkah yang bijak. Kutahu bahwa tulisan itu dapat mengikat ingatan. Akan tetapi apadayaku jika baru kali ini kuluangkan waktuku. Bukan berarti menulis itu tidak penting ataupun tidak berharga bagiku, tetapi masih ada hal lain yang mendesak dan penting yang harus dikerjakan. Nah, kadang hanya karena fokus pada suatu kerjaan dan telah selesai mengerjakannya sehingga pekerjaan yang telah direncanakan menjadi terlupakan. Mungkin bisa dikata sudah tidak mood lagi. Yah mungkin lagi karena saya tergolong orang yang moody. Tentu moody itu bukan hal yang dibuat-buat. Hal tersebut datang secara alamiah.

***
Termenung dalam lamunanku. Tersadar ketika waktu tak lagi pantas untuk berdiam diri.
Entah mengapa ketika bertemu dengannya perasaan gelisah muncul lagi. Rasa deg-degan pun ada, namun tentu itu tak seperti dulu. Sejak berada di daerah rantau saya telah melepaskannya. Melepaskan dalam arti bahwa silahkan dia menentukan jalannya sendiri. Saya sudah tak lagi menagih janji yang telah dibuat dan disepakati bersama. Yang kupahami adalah kesepakatan bersama itu hanya berlaku selama 2 tahun, sejak bulan Pebruari 2013 dan berakhir bulan Pebruari 2015. Sekarang sudah memasuki awal bulan Desember 2015. Telah berlalu selama 10 bulan dan itu bukanlah waktu yang singkat tetapi belum cukup untuk memulihkan dan mensterilkan hati. Sudah kuingatkan pada hati dan diri ini bahwa JANGAN PERNAH JATUH CINTA PADA SESEORANG YANG BELUM HALAL BAGIMU. Kalimat ini sudah berulang-ulang kuucapkan pada diriku sendiri. Nah terimplikasi pada bulan April 2015. Senang rasanya ketika kumencoba untuk bangkit dan berusaha mencoba menjadi lebih baik. Bahkan masih kental dalam pikiranku bahwa saya adalah seorang muslimah dan seyogyanya untuk selalu mengejar cintaNYA dan cinta Rasul. Mengejar cinta itu cukup mudah dan cukup sulit pula karena hanya dengan mengerjakan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Teringatku pada hadist Rasulullah bahwa “surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh manusia dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disukai oleh manusia”. Tentu ini berkaitan dengan hawa nafsu. Apa-apa yang tidak disukai dan disukai oleh hawa nafsu. Selain itu, Allah pun tak menyukai sesuatu yang berlebihan.
Alhamdulillah hubungan kami tetap berjalan baik dan tentunya masih dalam koridor Islami. Jikalau saya lupa maka ia mengingatkan dan jikalau dia yang lupa maka saya pun yang mengingatkan. Sejak akrab dengannya ketika mengikuti komunitas bokashi-ers maka sejak saat itu kami intens berkomunikasi. Yang saya bingungkan ketika itu adalah ketika komunikasi via sms maka seolah itu cair dan santai. Namun, ketika bertatap muka atau secara langsung entah mengapa seolah ia dingin. Padahal saya kan tetap biasa saja.
Hal itu tak kuambil hati, pusing atau apapun itu. Agaknya saya kurang peduli dengan yang seperti itu. Asalkan saya tak menyakitinya ataupun berantem dengannya.
Dia adalah abang bagiku. Menurutku ia adalah satu-satunya kakak cowokku. Kakak yang kuangkat ketika ketemu gede. Lucu sih tapi itu yang membuatku nyaman dan sekali lagi tak berbuat macam-macam.
Namun, setelah waktu berjalan dan ku berada jauh dengannya, sedikit demi sedikit saya membatasi komunikasi. Sedikit demi sedikit kumenyadari apa yang selama ini kulakukan adalah salah. Salah karena telah mengganggunya. Mengganggunya sehingga ia menjadi lebih dekat denganku dan menyebabkan adanya percikan-percikan cinta di antara kami. Cinta yang tidak seharusnya ada di antara dua insan manusia yang berlainan jenis yang belum memiliki ikatan suci. Jikalau memang ia serius padaku maka ketika kita berpisah selama 2 tahun 9 bulan maka ia akan berusaha melayakkan diri untuk menemui orangtuaku dan berbicara serius dengan mereka berkaitan dengan masa depan kami. Namun, ketika kusampai disini di tanah kelahiranku tanah tempat kita bertemu, ternyata belum ada kemajuan. Bahkan mungkin masih jauh dari kata perkenalan dengan orangtua. Saya sedih dan kecewa melihat itu, tetapi kesedihanku lebih besar dari kekecewaanku. Mengapa bisa seperti itu? Kecewa yang muncul itu dan berukuran kecil dibanding sedih karena harapanku padanya pun sudah menciut. Dimakan oleh waktu dan do’a/pengharapan yang tulus ikhlas pada masa depan yang cerah. Sedih karena saudara yang selama ini mendukungku berjuang telah terpuruk sendirian tanpa saya di sisinya. Di sisinya dalam artian saya menemaninya dalam perjuangan meniti studi, dakwah dan sebagainya atau setidaknya menanyakan kabar pada segala kondisinya. Yah, itu tak kulakukan karena kutelah memilih membatasi komunikasi. Maafkan saya yang memilih jalan seperti ini karena yang kupahami ini untuk kebaikan kita bersama wahai saudaraku.

Semangat berjuang dan tetap istiqamah di jalanNYA. Jangan saudara lunturkan sifat-sifat bijak, berkarakter mulia, rendah hati, berbudi luhur dan dermawan yang telah tertanam dalam diri saudara. Kutahu diluar sana dunianya keras, tetapi jangan sampai ia merubahmu menjadi kerdil. Jadilah orang yang besar, berjiwa besar, berpikiran besar dan berlaku orang besar.

Saya tetap merindukanmu dalam do’aku wahai saudaraku.     


07/11/2015 @ Kebun Raya Bogor


 15/11/2015 @ Pelataran MTQ Kendari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar