BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
08 DESEMBER 2015
@Mushola Azy
Jauh sebelum ini,
pemikiran atau ide untuk menulis telah ada, tetapi baru kali ini kesempatan itu
ada. Kutahu menyimpan ide dalam pikiran itu bukanlah langkah yang bijak. Kutahu
bahwa tulisan itu dapat mengikat ingatan. Akan tetapi apadayaku jika baru kali
ini kuluangkan waktuku. Bukan berarti menulis itu tidak penting ataupun tidak
berharga bagiku, tetapi masih ada hal lain yang mendesak dan penting yang harus
dikerjakan. Nah, kadang hanya karena fokus pada suatu kerjaan dan telah selesai
mengerjakannya sehingga pekerjaan yang telah direncanakan menjadi terlupakan.
Mungkin bisa dikata sudah tidak mood lagi. Yah mungkin lagi karena saya
tergolong orang yang moody. Tentu moody itu bukan hal yang dibuat-buat. Hal
tersebut datang secara alamiah.
***
Termenung dalam
lamunanku. Tersadar ketika waktu tak lagi pantas untuk berdiam diri.
Entah mengapa
ketika bertemu dengannya perasaan gelisah muncul lagi. Rasa deg-degan pun ada,
namun tentu itu tak seperti dulu. Sejak berada di daerah rantau saya telah
melepaskannya. Melepaskan dalam arti bahwa silahkan dia menentukan jalannya
sendiri. Saya sudah tak lagi menagih janji yang telah dibuat dan disepakati
bersama. Yang kupahami adalah kesepakatan bersama itu hanya berlaku selama 2
tahun, sejak bulan Pebruari 2013 dan berakhir bulan Pebruari 2015. Sekarang
sudah memasuki awal bulan Desember 2015. Telah berlalu selama 10 bulan dan itu
bukanlah waktu yang singkat tetapi belum cukup untuk memulihkan dan
mensterilkan hati. Sudah kuingatkan pada hati dan diri ini bahwa JANGAN PERNAH
JATUH CINTA PADA SESEORANG YANG BELUM HALAL BAGIMU. Kalimat ini sudah
berulang-ulang kuucapkan pada diriku sendiri. Nah terimplikasi pada bulan April
2015. Senang rasanya ketika kumencoba untuk bangkit dan berusaha mencoba
menjadi lebih baik. Bahkan masih kental dalam pikiranku bahwa saya adalah
seorang muslimah dan seyogyanya untuk selalu mengejar cintaNYA dan cinta Rasul.
Mengejar cinta itu cukup mudah dan cukup sulit pula karena hanya dengan
mengerjakan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Teringatku pada hadist
Rasulullah bahwa “surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh
manusia dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disukai oleh manusia”. Tentu
ini berkaitan dengan hawa nafsu. Apa-apa yang tidak disukai dan disukai oleh hawa
nafsu. Selain itu, Allah pun tak menyukai sesuatu yang berlebihan.
Alhamdulillah
hubungan kami tetap berjalan baik dan tentunya masih dalam koridor Islami. Jikalau
saya lupa maka ia mengingatkan dan jikalau dia yang lupa maka saya pun yang
mengingatkan. Sejak akrab dengannya ketika mengikuti komunitas bokashi-ers maka
sejak saat itu kami intens berkomunikasi. Yang saya bingungkan ketika itu
adalah ketika komunikasi via sms maka seolah itu cair dan santai. Namun, ketika
bertatap muka atau secara langsung entah mengapa seolah ia dingin. Padahal saya
kan tetap biasa saja.
Hal itu tak kuambil
hati, pusing atau apapun itu. Agaknya saya kurang peduli dengan yang seperti
itu. Asalkan saya tak menyakitinya ataupun berantem dengannya.
Dia adalah abang
bagiku. Menurutku ia adalah satu-satunya kakak cowokku. Kakak yang kuangkat
ketika ketemu gede. Lucu sih tapi itu yang membuatku nyaman dan sekali lagi tak
berbuat macam-macam.
Namun, setelah
waktu berjalan dan ku berada jauh dengannya, sedikit demi sedikit saya membatasi
komunikasi. Sedikit demi sedikit kumenyadari apa yang selama ini kulakukan
adalah salah. Salah karena telah mengganggunya. Mengganggunya sehingga ia
menjadi lebih dekat denganku dan menyebabkan adanya percikan-percikan cinta di
antara kami. Cinta yang tidak seharusnya ada di antara dua insan manusia yang
berlainan jenis yang belum memiliki ikatan suci. Jikalau memang ia serius
padaku maka ketika kita berpisah selama 2 tahun 9 bulan maka ia akan berusaha
melayakkan diri untuk menemui orangtuaku dan berbicara serius dengan mereka
berkaitan dengan masa depan kami. Namun, ketika kusampai disini di tanah
kelahiranku tanah tempat kita bertemu, ternyata belum ada kemajuan. Bahkan
mungkin masih jauh dari kata perkenalan dengan orangtua. Saya sedih dan kecewa
melihat itu, tetapi kesedihanku lebih besar dari kekecewaanku. Mengapa bisa
seperti itu? Kecewa yang muncul itu dan berukuran kecil dibanding sedih karena
harapanku padanya pun sudah menciut. Dimakan oleh waktu dan do’a/pengharapan
yang tulus ikhlas pada masa depan yang cerah. Sedih karena saudara yang selama
ini mendukungku berjuang telah terpuruk sendirian tanpa saya di sisinya. Di
sisinya dalam artian saya menemaninya dalam perjuangan meniti studi, dakwah dan
sebagainya atau setidaknya menanyakan kabar pada segala kondisinya. Yah, itu
tak kulakukan karena kutelah memilih membatasi komunikasi. Maafkan saya yang
memilih jalan seperti ini karena yang kupahami ini untuk kebaikan kita bersama
wahai saudaraku.
Semangat berjuang
dan tetap istiqamah di jalanNYA. Jangan saudara lunturkan sifat-sifat bijak,
berkarakter mulia, rendah hati, berbudi luhur dan dermawan yang telah tertanam
dalam diri saudara. Kutahu diluar sana dunianya keras, tetapi jangan sampai ia
merubahmu menjadi kerdil. Jadilah orang yang besar, berjiwa besar, berpikiran
besar dan berlaku orang besar.
Saya tetap
merindukanmu dalam do’aku wahai saudaraku.
07/11/2015 @ Kebun Raya Bogor
15/11/2015 @ Pelataran MTQ Kendari


Tidak ada komentar:
Posting Komentar