Pukul: 19.29 Bogor:
Senin, 10 Juni 2013
Kisahku
Dahulu
gadis ini begitu tomboy
Dahulu
gadis ini begitu keras kepala, saat ia kanak-kanak ia sangat suka mengikuti
kakaknya untuk bermain, selalu berada di belakang kakaknya.
Tidak
hanya saat bermain tetapi pula saat bersekolah, mengenyam SD-SMA yang sama
bahkan saat kuliah pun, namun sudah pada jurusan yang berbeda.
Sedikit-sedikit
ikut kakak. Waktu dulu ketika kakak punya baju baru maka saya pun memiliki
motif yang sama namun ukurannya lebih kecil.
Sesungguhnya
tidak selalu mengikuti beliau karena kami beda dua tahun, jadi ketika saya SD
kelas 5 tak bersama beliau, begitupun ketika SMP kelas 2 dan SMA kelas 2.
Sekiranya
saat itu belum ada pemikiran untuk menentukan jalan sendiri karena masih kanak-kanak
atau pemikiran masih sangat terbatas.
Sejak
kecil Bundaku mengajarkan untuk berbuat baik pada orang tua, dengar kata orang
tua (penurut), berbuat baik pada orang lain, sopan dan tidak boleh nakal.
Saya
teringat saat kelas 4 SD, saya menemani temanku pulang ke rumahnya di bagian
Balai Kota Kendari dekat SD kuncup yang sekarang telah didirikan MTQ di
seberang jalannya. Rumahnya itu pas di belakang masjid. Temanku itu sering
dipanggil Kiki. Maafkan saya jika tak mengingat nama lengkapmu wahai temanku
namun wajahmu tetap jelas diingatanku. Ia sering datang main-main ke rumah.
Ketika naik ke kelas 5, ia dan keluarganya memutuskan untuk pindah sekolah dan
pindah rumah pula yang sebelumnya sempat menjadi tetangga dekatku sehingga saya
pun tak bersama lagi dengannya sejak saat itu. Sedih rasanya.
Saya
pun teringat saat itu sempat bertengkar dengan teman kelas dikarenakan kami
berbeda pendapat dan saling menyalahkan. Saat itu seolah sudah dibuat waktu
kesepakatan untuk bertemu dan dimulailah perkelahian itu dengan sistem jambak
rambut. Ketika ia menarik keras maka akan dibalas dengan tarikan yang lebih
keras lagi. Kalau teringat itu, sungguh sangat menggelikan. Alhamdulillah saya
termasuk kategori orang yang tidak suka kles dengan teman dan selalu berada
pada pihak objektif atau netral. Jadi terkadang mereka saling cuek-mencueki
namun saya tinggal santai-santai saja dan bahkan jadi mediator bagi
teman-temanku untuk berbaikan kembali.
Jajanan
yang paling mengasyikkan adalah opak singkong lebar berbentuk bundar dengan
diameter kurang lebih 25 cm dengan dilumuri dengan gula merah kental, harganya
tuh Rp 100. Gara-gara sering makan itu jadinya pakaian sekolah yang berwarna
putih dibuat kotor karenanya. Selain itu, ada juga jajanan nasi kuning dengan
piring plastik seukuran piring cangkir teh yang nasinya itu hanya ditaburi oleh
sambal cair, nasinya ini cukup mengenyangkan loh dan harganya itu Rp 300. Tak
lupa pula burasa dan kalau dimakannya itu diolesi dengan sambal yang kadang
dibuat pedis oleh Ibu kantin sehingga rasanya jadi nendang dan menantang,
harganya itu Rp 100. Subhanallah, sangat menyenangkan ketika keluar main-main
itu.
Alhamdulillah
sejak SD kelas 5 saya telah mengenakan hijab dan jilbab pertamaku saat ke
sekolah itu berwarna pink. Saya pun masih ingat bahwa baju seragamku telah
dijahitkan oleh Ibu dari temanku yang seorang penjahit. Perasaan untuk
berjilbab datang dari saya sendiri bersama seorang teman, walaupun kutahu ia
tak seberuntung denganku yang mampu untuk menjahit baju seragam muslimah baru.
Namun ia tetap semangat untuk berhijab dengan cara tetap menggunakan jilbab dan
kaos kaki dipanjangkan hingga menutupi kaki. Ia teman yang penuh dengan
semangat, pekerja keras, cerewet dan baik hati. Senang bisa mengenalmu.
Ketika
itu kami telah memasuki kelas 6, saat-saat terakhir berada di SD. Ada saat kami
diuji untuk tetap mempertahankan keyakinan kami menggunakan hijab tetapi
melanggar aturan atau mengikuti aturan namun melanggar keyakinan kami. Saat itu
aturannya adalah ketika berfoto untuk ijazah SD maka telinga itu mesti terlihat
maka secara otomatis jilbab mesti dibuka, namun kami tidak berhenti ide jadi
kami memutuskan tetap menggunakan jilbab hanya saja telinga diperlihatkan. Jadi
caranya itu seperti terlihat Ibu-Ibu haji namun leher tetap tertutupi. Jika
saya melihat kembali foto tersebut terlihat begitu lucu. Foto ini terpampang
rapi di ijazah SD-ku.
Saat
2002 saya memasuki sekolah menengah pertama. Seragam merah putih telah berubah
menjadi seragam putih biru. Teman-teman SD pun tak semua memilih sekolah yang
sama namun bisa dikatakan sebagian besar masih bersama mereka. Alhamdulillah saya
disekolahkan di tempat yang dekat dengan rumahku. Alhamdulillah masih dengan
hijabku, namun masih seperti sebelumnya. Ku masih ingat celana yang ngetrend
saat itu adalah celana jeans polos yang ketat namun lebar bawah atau jeans
ketat polos dengan motif bunga-bunga di sampingnya serta ada pula baju
monyet-monyet. Saat smp saya cuman punya 2 jilbab biru yaitu ada yang tebal dan
ada yang tipis. Dahulu model jilbab itu dengan mengenakan cincin motif di
bagian depan jilbab. Saya suka sekali meminjam bros Mamaku. Akhirnya ketika
Mamaku pingin keluar maka dicarilah bros tersebut. Siapa lagi pelakunya jika
bukan saya yang suka memakainya. Untungnya Mama membelikan bros khusus untukku
dan mengikhlaskan bros yang suka saya gunakan itu. Aturan sekolah adalah baju
seragam putih dimasukkan ke dalam rok dan memakai tali pinggang hitam.
Ketika
upacara hari senin beberapa kali saya ditunjuk sebagai pembaca Undang-Undang
dan pernah bertugas sebagai pembawa bendera. Walaupun berhijab tetapi tetap
terlihat keren loh.
Kelas
2 pernah mengikuti latihan dance dan di saat tampil saya menghilang karena
gerakan dance itu berlawanan dengan keinginan hati saya. Saya baru menyadari
bahwa ketika menari itu akan dilihat banyak orang dan saya memiliki rasa malu
yang cukup besar saat itu. Alhamdulillah sejak kelas 2 itu saya baru
diperkenalkan dengan tarbiyah bersamaan dengan kakakku yang sudah memasuki
kelas 1 SMA. Saya mengikuti kajian bersama dengan anak-anak yang seumuran yang
juga tinggal di perumahan dosen. Kami berjumlah 9 orang saat itu.
Ketika
masuk kelas 3 sifat kecowokanku masih belum hilang sepenuhnya, terbukti dengan
ditunjuknya saya sebagai seksi keamanan. Wanita berhijab tapi sangar dan berkewajiban
menenangkan kelas dan mencatat siswa yang suka keluar-keluar kelas dan bolos.
Terkadang saya mesti memukul meja dengan sapu dan mengatakan ‘jangan ribut’
yang saat itu guru tak masuk mengajar. Mengejar teman-teman cowok yang suka
main-main dalam kelas dengan membawakan sapu lidi.
22/06/2013 @ Istana Bogor

Tidak ada komentar:
Posting Komentar