Kamis, 10 Desember 2015

Sepercik Sejarahku



Pukul: 19.29                                                                                                     Bogor: Senin, 10 Juni 2013

Kisahku

Dahulu gadis ini begitu tomboy
Dahulu gadis ini begitu keras kepala, saat ia kanak-kanak ia sangat suka mengikuti kakaknya untuk bermain, selalu berada di belakang kakaknya.
Tidak hanya saat bermain tetapi pula saat bersekolah, mengenyam SD-SMA yang sama bahkan saat kuliah pun, namun sudah pada jurusan yang berbeda.
Sedikit-sedikit ikut kakak. Waktu dulu ketika kakak punya baju baru maka saya pun memiliki motif yang sama namun ukurannya lebih kecil.
Sesungguhnya tidak selalu mengikuti beliau karena kami beda dua tahun, jadi ketika saya SD kelas 5 tak bersama beliau, begitupun ketika SMP kelas 2 dan SMA kelas 2.
Sekiranya saat itu belum ada pemikiran untuk menentukan jalan sendiri karena masih kanak-kanak atau pemikiran masih sangat terbatas.
Sejak kecil Bundaku mengajarkan untuk berbuat baik pada orang tua, dengar kata orang tua (penurut), berbuat baik pada orang lain, sopan dan tidak boleh nakal.
Saya teringat saat kelas 4 SD, saya menemani temanku pulang ke rumahnya di bagian Balai Kota Kendari dekat SD kuncup yang sekarang telah didirikan MTQ di seberang jalannya. Rumahnya itu pas di belakang masjid. Temanku itu sering dipanggil Kiki. Maafkan saya jika tak mengingat nama lengkapmu wahai temanku namun wajahmu tetap jelas diingatanku. Ia sering datang main-main ke rumah. Ketika naik ke kelas 5, ia dan keluarganya memutuskan untuk pindah sekolah dan pindah rumah pula yang sebelumnya sempat menjadi tetangga dekatku sehingga saya pun tak bersama lagi dengannya sejak saat itu. Sedih rasanya.
Saya pun teringat saat itu sempat bertengkar dengan teman kelas dikarenakan kami berbeda pendapat dan saling menyalahkan. Saat itu seolah sudah dibuat waktu kesepakatan untuk bertemu dan dimulailah perkelahian itu dengan sistem jambak rambut. Ketika ia menarik keras maka akan dibalas dengan tarikan yang lebih keras lagi. Kalau teringat itu, sungguh sangat menggelikan. Alhamdulillah saya termasuk kategori orang yang tidak suka kles dengan teman dan selalu berada pada pihak objektif atau netral. Jadi terkadang mereka saling cuek-mencueki namun saya tinggal santai-santai saja dan bahkan jadi mediator bagi teman-temanku untuk berbaikan kembali.
Jajanan yang paling mengasyikkan adalah opak singkong lebar berbentuk bundar dengan diameter kurang lebih 25 cm dengan dilumuri dengan gula merah kental, harganya tuh Rp 100. Gara-gara sering makan itu jadinya pakaian sekolah yang berwarna putih dibuat kotor karenanya. Selain itu, ada juga jajanan nasi kuning dengan piring plastik seukuran piring cangkir teh yang nasinya itu hanya ditaburi oleh sambal cair, nasinya ini cukup mengenyangkan loh dan harganya itu Rp 300. Tak lupa pula burasa dan kalau dimakannya itu diolesi dengan sambal yang kadang dibuat pedis oleh Ibu kantin sehingga rasanya jadi nendang dan menantang, harganya itu Rp 100. Subhanallah, sangat menyenangkan ketika keluar main-main itu.
Alhamdulillah sejak SD kelas 5 saya telah mengenakan hijab dan jilbab pertamaku saat ke sekolah itu berwarna pink. Saya pun masih ingat bahwa baju seragamku telah dijahitkan oleh Ibu dari temanku yang seorang penjahit. Perasaan untuk berjilbab datang dari saya sendiri bersama seorang teman, walaupun kutahu ia tak seberuntung denganku yang mampu untuk menjahit baju seragam muslimah baru. Namun ia tetap semangat untuk berhijab dengan cara tetap menggunakan jilbab dan kaos kaki dipanjangkan hingga menutupi kaki. Ia teman yang penuh dengan semangat, pekerja keras, cerewet dan baik hati. Senang bisa mengenalmu.
Ketika itu kami telah memasuki kelas 6, saat-saat terakhir berada di SD. Ada saat kami diuji untuk tetap mempertahankan keyakinan kami menggunakan hijab tetapi melanggar aturan atau mengikuti aturan namun melanggar keyakinan kami. Saat itu aturannya adalah ketika berfoto untuk ijazah SD maka telinga itu mesti terlihat maka secara otomatis jilbab mesti dibuka, namun kami tidak berhenti ide jadi kami memutuskan tetap menggunakan jilbab hanya saja telinga diperlihatkan. Jadi caranya itu seperti terlihat Ibu-Ibu haji namun leher tetap tertutupi. Jika saya melihat kembali foto tersebut terlihat begitu lucu. Foto ini terpampang rapi di ijazah SD-ku.

Saat 2002 saya memasuki sekolah menengah pertama. Seragam merah putih telah berubah menjadi seragam putih biru. Teman-teman SD pun tak semua memilih sekolah yang sama namun bisa dikatakan sebagian besar masih bersama mereka. Alhamdulillah saya disekolahkan di tempat yang dekat dengan rumahku. Alhamdulillah masih dengan hijabku, namun masih seperti sebelumnya. Ku masih ingat celana yang ngetrend saat itu adalah celana jeans polos yang ketat namun lebar bawah atau jeans ketat polos dengan motif bunga-bunga di sampingnya serta ada pula baju monyet-monyet. Saat smp saya cuman punya 2 jilbab biru yaitu ada yang tebal dan ada yang tipis. Dahulu model jilbab itu dengan mengenakan cincin motif di bagian depan jilbab. Saya suka sekali meminjam bros Mamaku. Akhirnya ketika Mamaku pingin keluar maka dicarilah bros tersebut. Siapa lagi pelakunya jika bukan saya yang suka memakainya. Untungnya Mama membelikan bros khusus untukku dan mengikhlaskan bros yang suka saya gunakan itu. Aturan sekolah adalah baju seragam putih dimasukkan ke dalam rok dan memakai tali pinggang hitam.
Ketika upacara hari senin beberapa kali saya ditunjuk sebagai pembaca Undang-Undang dan pernah bertugas sebagai pembawa bendera. Walaupun berhijab tetapi tetap terlihat keren loh.
Kelas 2 pernah mengikuti latihan dance dan di saat tampil saya menghilang karena gerakan dance itu berlawanan dengan keinginan hati saya. Saya baru menyadari bahwa ketika menari itu akan dilihat banyak orang dan saya memiliki rasa malu yang cukup besar saat itu. Alhamdulillah sejak kelas 2 itu saya baru diperkenalkan dengan tarbiyah bersamaan dengan kakakku yang sudah memasuki kelas 1 SMA. Saya mengikuti kajian bersama dengan anak-anak yang seumuran yang juga tinggal di perumahan dosen. Kami berjumlah 9 orang saat itu.
Ketika masuk kelas 3 sifat kecowokanku masih belum hilang sepenuhnya, terbukti dengan ditunjuknya saya sebagai seksi keamanan. Wanita berhijab tapi sangar dan berkewajiban menenangkan kelas dan mencatat siswa yang suka keluar-keluar kelas dan bolos. Terkadang saya mesti memukul meja dengan sapu dan mengatakan ‘jangan ribut’ yang saat itu guru tak masuk mengajar. Mengejar teman-teman cowok yang suka main-main dalam kelas dengan membawakan sapu lidi.                   

22/06/2013 @ Istana Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar