Kamis, 10 Desember 2015

Lembaran Penjalanan Hidupku



"ISLAM MATAHARIKU”

Saya terlahir dan dibesarkan dari keluarga muslim sehingga membawaku dalam berpikir, bersikap dan bertutur kata Islami. Sungguh inilah kenikmatan tiada terkira dan terbesar dalam hidupku yaitu kenikmatan keislaman dan keimanan. Ketika duduk di bangku SD kelas 5, saya mulai mengenakan hijab. Kerudung yang kukenakan pertama kali saat berangkat ke sekolah yaitu berwarna pink. Warna yang begitu kusukai. Memang saya telah berhijab saat itu bersama seorang temanku, akan tetapi gaya tomboy atau kelaki-lakian itu tetap melekat padaku. Saya masih sering panjat pohon yang berbuah (gersen, mangga, jambu batu dll), pakai celana borju (celana laki-laki yang punya banyak kantong), main kasti dengan laki-lakinya di sekolah, main gebo/main raja-raja, main wayang dan permainan lainnya semasa kecil dulu.
            Alhamdulillah wa syukurillah lingkungan tempat tinggal saya merupakan lingkungan Islami, bahkan saat SMP itu saya telah mengikuti kajian dari Wahdah oleh Lembaga Kemuslimahan, saat itu Ketuanya adalah Ummu Ahmad. Banyak hal yang telah diperoleh yaitu belajar ilmu tajwid, ilmu tauhid, kajian fiqih dan masih banyak lagi. Seru-seru dan asyik pokoknya. Saat itu dalam kelompok kajianku terdiri dari 9 orang yang semuanya merupakan anak-anak dosen dan tetangga rumah, termasuk kakakku. Dengan melihat perubahan yang baik bagi kami (saya dan kakakku) membuat mamaku merasa tenang ketika mengizinkan kami untuk keluar rumah dengan tujuan kerja tugas di rumah teman, menghadiri ulang tahun ataupun ada kegiatan yang mengharuskan bermalam di tempat kegiatan. Ada sebuah nasehat dari mamaku: “kita boleh mengikuti suatu kajian tetapi jangan sampai menyakiti hati orang lain, silahkan ikut tapi tidak perlu sampai  bercadar segala. Yang penting ibadah kita jalani seperti sholat, mengaji, puasa dsb, serta kita pun tidak membatasi sosialiasi dengan orang lain apalagi keluarga”.                    
            Saat duduk di bangku SMA saya pun tetap memegang teguh ilmu agama yang telah terpatri dalam hati, pikiran dan perbuatanku. Saya tetap dengan hijab yang saya kenakan, tetap dengan kediamanku, tetap dengan enggan menyentuh teman laki-laki baik mau sengaja ataupun tidak. Tetapi ketika bertemu dengan bapak guru maka saya akan bersalaman dengan beliau. Entah ini terkesan lucu atau pun aneh, saya teringat sebuah kebiasaan saya bahwa ketika saya membayar angkot dan bersentuhan dengan tangannya pak sopir atau pun tanpa sengaja menyentuh kulit teman laki-lakiku maka segera setelah itu saya me-lap tangan saya entah di baju ataupun rok dengan tidak dilihat oleh mereka agar sentuhannya tidak berbekas ke tanganku. Saat itu pula saya merasa perlu mencari teman yang memiliki pemikiran yang sama denganku, teman yang bisa selalu mengingatkanku ketika salah, teman dengan tingkat intelektual tinggi dan agamanya pun mantap, teman yang juga mengenakan hijab, teman yang dalam kesehariannya bernuansa Islami. Sejak saat itu saya mengikuti salah satu organisasi di bawah OSIS yang bersifat kerohanian yaitu PRISMA (Perhimpunan Remaja Islam SMAN 1 Kendari). Alhamdulillah saya diamanahkan sebagai bendahara dan Alhamdulillah dapat predikat sebagai bendahara terbaik di tingkat MPK yang berada di atas OSIS. Saat itu dan entah sekarang bagaimana, organisasi ini berada dalam naungan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang karena ketuanya pun kajian pada harokah ini. Saya pernah mengikuti kajiannya selama dua kali pertemuan. Saya pun pernah mengikuti organisasi di luar sekolah yaitu ISMI (Ikatan Silaturahim Muslim Indonesia), yang anggota ataupun pengurus intinya didominasi dari siswa SMAN 1 Kendari, SMAN 4 Kendari, serta sedikit dari SMAN 9 Kendari dan SMAN 3 Kendari. Saya cukup merasa asing dengan perbedaan yang ada padaku yaitu teman-teman mengenakan pakaian terusan yang mereka sebut dengan jilbab sementara saya masih dengan pakaian potongan yang tentu saja tidak tipis dan tidak ketat. Pemahaman yang ada pada mereka tidak sampai padaku secara penuh sehingga selang beberapa waktu ketika menginjak kelas 3 yang saat itu cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran dalam mempersiapkan ujian akhir sekolah, saya pun tidak tergabung dengan mereka lagi.
            Inilah kampus yang telah kuidam-idamkan untuk kuliah disini. Kampus yang setiap hari kulewati ketika akan berangkat ke SMA dulu selama 3 tahun dan akhirnya saya terdaftar sebagai mahasiswa UNHALU. Saat jalan-jalan ke fakultas yang akan menjadi perjalanan hidupku nanti, saya bertemu dengan seorang wanita yang sama-sama sebagai mahasiswa baru di faperta yang ternyata sejurusan denganku, seruangan kuliah, seorganisasi denganku, sekelompok tarbiyah denganku dan bahkan hingga saat ini ia menjadi sahabat terbaikku dan semoga kami bisa dipertemukan di surga-Nya kelak. Aamiin… Di perguruan tinggi ini pun saya sangat tertarik untuk mengikuti organisasi intra terutama MPM Al Zaytun Faperta (Mahasiswa Pecinta Mushola Al Zaytun Fakultas Pertanian). Saya sangat tertarik karena ketika saya sedang mengikuti OSPEK, senior yang membantu dalam mengerjakan tugas, memberikan motivasi, menumbuhkan keberanian dan memberikan kenyamanan adalah mereka (pengurus/anggota MPM) ketika awal masuk kampus. Mereka jugalah yang mengantarku pada tarbiyah. Yang dengan tarbiyah ini sehingga saya bisa mempertahankan keimanan dan sekiranya mampu meningkatkan kualitas imanku. Hal ini seumpama hp dan manusia, hp itu harus selalu di-charge ketika lowbath. Iman itu bak baterainya karena iman seseorang itu kadang turun dan kadang naik, sama dengan baterai kadang full dan kadang low, sehingga manusia itu harus selalu ikut tarbiyah sebagai alat penge-charge hati/imannya agar tetap terkontrol. Saya membayangkan jika saya tidak ikut tarbiyah maka saya tidak lagi enggan dengan laki-laki, saya bisa mudah terpengaruh karena kurangnya ilmu agama dan akibat buruk lainnya yang sungguh sangat tidak diharapkan. Na’uzubillah...                            
            Saat ini saya telah menginjak tahun ke-empat, waktu dimana kebanyakan mahasiswa berlomba-lomba menyusun skripsi. Begitupun denganku. Penelitian pun telah kujalani selama 7 bulan sejak penyusunan proposal hingga berakhirnya penelitianku. Semua itu tidak akan bisa kulewati tanpa bantuan dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, keluargaku tercinta terutama Mama dan Bapakku, dan teman-temanku yang kusayangi karena Allah Ta’ala. Ada hal yang saya baru pahami ialah perjuangan da’wah ini butuh banyak pengorbanan baik harta, waktu bahkan jiwa sekalipun. Kemudian saya melihat ada beberapa teman seperjuangan yang rela mengorbankan waktu kuliahnya dengan menunda skripsi untuk tetap memegang amanah dalam menyebarkan kebaikan di lingkungan kampus. Sedangkan saya, apa yang telah saya berikan untuk da’wah ini? Dengan melihat potensi yang ada pada diri ini maka apa yang perlu diandalkan. Saya berencana untuk melanjutkan studi S2 ke salah satu perguruan tinggi di Indonesia ataupun di luar negeri sebagai jalan dalam perluasan da’wah dan mencari link bagi kemajuan da’wah di daerah. Semoga Allah menjabah do’a dan rencanaku ini. Aamiin…

             
    
Riwayat Hidup Penulis:
            Nama lengkap penulis adalah Siti Rahmah Karimuna dan biasa dipanggil Rahmah. Penulis dilahirkan pada tanggal 7 April 1991, di Kendari, Kecamatan Mandonga, Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara. Penulis adalah anak kedua dari empat bersaudara, putri dari La Karimuna dan Siti Sarfiah.
            Pada tahun 2002 penulis lulus dari SDN 1 Kambu. Tahun 2005 lulus dari SMPN 10 Kendari, dan pada tahun 2008 lulus dari SMAN 1 Kendari. Pada tahun 2008 penulis diterima menjadi mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo (UNHALU) melalui jalur PPMP. Cukup itu aja ya… tiada hal menarik lainnya dari penulis. Hehehe….

04/11/2012 @ Kendari

 30/06/2012 @ Bintang Samudera

Tidak ada komentar:

Posting Komentar