"ISLAM
MATAHARIKU”
Saya terlahir
dan dibesarkan dari keluarga muslim sehingga membawaku dalam berpikir, bersikap
dan bertutur kata Islami. Sungguh inilah kenikmatan tiada terkira dan terbesar
dalam hidupku yaitu kenikmatan keislaman dan keimanan. Ketika duduk di bangku
SD kelas 5, saya mulai mengenakan hijab. Kerudung yang kukenakan pertama kali
saat berangkat ke sekolah yaitu berwarna pink. Warna yang begitu kusukai.
Memang saya telah berhijab saat itu bersama seorang temanku, akan tetapi gaya
tomboy atau kelaki-lakian itu tetap melekat padaku. Saya masih sering panjat
pohon yang berbuah (gersen, mangga, jambu batu dll), pakai celana borju (celana
laki-laki yang punya banyak kantong), main kasti dengan laki-lakinya di
sekolah, main gebo/main raja-raja, main wayang dan permainan lainnya semasa
kecil dulu.
Alhamdulillah
wa syukurillah lingkungan tempat tinggal saya merupakan lingkungan Islami,
bahkan saat SMP itu saya telah mengikuti kajian dari Wahdah oleh Lembaga
Kemuslimahan, saat itu Ketuanya adalah Ummu Ahmad. Banyak hal yang telah
diperoleh yaitu belajar ilmu tajwid, ilmu tauhid, kajian fiqih dan masih banyak
lagi. Seru-seru dan asyik pokoknya. Saat itu dalam kelompok kajianku terdiri
dari 9 orang yang semuanya merupakan anak-anak dosen dan tetangga rumah,
termasuk kakakku. Dengan melihat perubahan yang baik bagi kami (saya dan
kakakku) membuat mamaku merasa tenang ketika mengizinkan kami untuk keluar
rumah dengan tujuan kerja tugas di rumah teman, menghadiri ulang tahun ataupun
ada kegiatan yang mengharuskan bermalam di tempat kegiatan. Ada sebuah nasehat dari
mamaku: “kita boleh mengikuti suatu kajian tetapi jangan sampai menyakiti hati
orang lain, silahkan ikut tapi tidak perlu sampai bercadar segala. Yang penting ibadah kita
jalani seperti sholat, mengaji, puasa dsb, serta kita pun tidak membatasi
sosialiasi dengan orang lain apalagi keluarga”.
Saat
duduk di bangku SMA saya pun tetap memegang teguh ilmu agama yang telah
terpatri dalam hati, pikiran dan perbuatanku. Saya tetap dengan hijab yang saya
kenakan, tetap dengan kediamanku, tetap dengan enggan menyentuh teman laki-laki
baik mau sengaja ataupun tidak. Tetapi ketika bertemu dengan bapak guru maka
saya akan bersalaman dengan beliau. Entah ini terkesan lucu atau pun aneh, saya
teringat sebuah kebiasaan saya bahwa ketika saya membayar angkot dan
bersentuhan dengan tangannya pak sopir atau pun tanpa sengaja menyentuh kulit
teman laki-lakiku maka segera setelah itu saya me-lap tangan saya entah di baju
ataupun rok dengan tidak dilihat oleh mereka agar sentuhannya tidak berbekas ke
tanganku. Saat itu pula saya merasa perlu mencari teman yang memiliki pemikiran
yang sama denganku, teman yang bisa selalu mengingatkanku ketika salah, teman
dengan tingkat intelektual tinggi dan agamanya pun mantap, teman yang juga
mengenakan hijab, teman yang dalam kesehariannya bernuansa Islami. Sejak saat
itu saya mengikuti salah satu organisasi di bawah OSIS yang bersifat kerohanian
yaitu PRISMA (Perhimpunan Remaja Islam SMAN 1 Kendari). Alhamdulillah saya
diamanahkan sebagai bendahara dan Alhamdulillah dapat predikat sebagai bendahara
terbaik di tingkat MPK yang berada di atas OSIS. Saat itu dan entah sekarang
bagaimana, organisasi ini berada dalam naungan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)
yang karena ketuanya pun kajian pada harokah ini. Saya pernah mengikuti
kajiannya selama dua kali pertemuan. Saya pun pernah mengikuti organisasi di
luar sekolah yaitu ISMI (Ikatan Silaturahim Muslim Indonesia), yang anggota
ataupun pengurus intinya didominasi dari siswa SMAN 1 Kendari, SMAN 4 Kendari,
serta sedikit dari SMAN 9 Kendari dan SMAN 3 Kendari. Saya cukup merasa asing
dengan perbedaan yang ada padaku yaitu teman-teman mengenakan pakaian terusan
yang mereka sebut dengan jilbab sementara saya masih dengan pakaian potongan
yang tentu saja tidak tipis dan tidak ketat. Pemahaman yang ada pada mereka
tidak sampai padaku secara penuh sehingga selang beberapa waktu ketika
menginjak kelas 3 yang saat itu cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran dalam
mempersiapkan ujian akhir sekolah, saya pun tidak tergabung dengan mereka lagi.
Inilah
kampus yang telah kuidam-idamkan untuk kuliah disini. Kampus yang setiap hari
kulewati ketika akan berangkat ke SMA dulu selama 3 tahun dan akhirnya saya
terdaftar sebagai mahasiswa UNHALU. Saat jalan-jalan ke fakultas yang akan
menjadi perjalanan hidupku nanti, saya bertemu dengan seorang wanita yang
sama-sama sebagai mahasiswa baru di faperta yang ternyata sejurusan denganku,
seruangan kuliah, seorganisasi denganku, sekelompok tarbiyah denganku dan
bahkan hingga saat ini ia menjadi sahabat terbaikku dan semoga kami bisa
dipertemukan di surga-Nya kelak. Aamiin… Di perguruan tinggi ini pun saya
sangat tertarik untuk mengikuti organisasi intra terutama MPM Al Zaytun Faperta
(Mahasiswa Pecinta Mushola Al Zaytun Fakultas Pertanian). Saya sangat tertarik
karena ketika saya sedang mengikuti OSPEK, senior yang membantu dalam
mengerjakan tugas, memberikan motivasi, menumbuhkan keberanian dan memberikan
kenyamanan adalah mereka (pengurus/anggota MPM) ketika awal masuk kampus.
Mereka jugalah yang mengantarku pada tarbiyah. Yang dengan tarbiyah ini
sehingga saya bisa mempertahankan keimanan dan sekiranya mampu meningkatkan
kualitas imanku. Hal ini seumpama hp dan manusia, hp itu harus selalu di-charge
ketika lowbath. Iman itu bak baterainya karena iman seseorang itu kadang turun
dan kadang naik, sama dengan baterai kadang full dan kadang low, sehingga
manusia itu harus selalu ikut tarbiyah sebagai alat penge-charge hati/imannya
agar tetap terkontrol. Saya membayangkan jika saya tidak ikut tarbiyah maka
saya tidak lagi enggan dengan laki-laki, saya bisa mudah terpengaruh karena
kurangnya ilmu agama dan akibat buruk lainnya yang sungguh sangat tidak
diharapkan. Na’uzubillah...
Saat
ini saya telah menginjak tahun ke-empat, waktu dimana kebanyakan mahasiswa
berlomba-lomba menyusun skripsi. Begitupun denganku. Penelitian pun telah
kujalani selama 7 bulan sejak penyusunan proposal hingga berakhirnya
penelitianku. Semua itu tidak akan bisa kulewati tanpa bantuan dan pertolongan
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, keluargaku tercinta terutama Mama dan Bapakku,
dan teman-temanku yang kusayangi karena Allah Ta’ala. Ada hal yang saya baru pahami
ialah perjuangan da’wah ini butuh banyak pengorbanan baik harta, waktu bahkan
jiwa sekalipun. Kemudian saya melihat ada beberapa teman seperjuangan yang rela
mengorbankan waktu kuliahnya dengan menunda skripsi untuk tetap memegang amanah
dalam menyebarkan kebaikan di lingkungan kampus. Sedangkan saya, apa yang telah
saya berikan untuk da’wah ini? Dengan melihat potensi yang ada pada diri ini
maka apa yang perlu diandalkan. Saya berencana untuk melanjutkan studi S2 ke
salah satu perguruan tinggi di Indonesia ataupun di luar negeri sebagai jalan
dalam perluasan da’wah dan mencari link bagi kemajuan da’wah di daerah. Semoga
Allah menjabah do’a dan rencanaku ini. Aamiin…
Riwayat Hidup Penulis:
Nama lengkap penulis adalah Siti
Rahmah Karimuna dan biasa dipanggil Rahmah. Penulis dilahirkan pada tanggal 7
April 1991, di Kendari, Kecamatan Mandonga, Kabupaten Kendari, Sulawesi
Tenggara. Penulis adalah anak kedua dari empat bersaudara, putri dari La
Karimuna dan Siti Sarfiah.
Pada tahun 2002 penulis lulus dari
SDN 1 Kambu. Tahun 2005 lulus dari SMPN 10 Kendari, dan pada tahun 2008 lulus
dari SMAN 1 Kendari. Pada tahun 2008 penulis diterima menjadi mahasiswa Jurusan
Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo (UNHALU) melalui jalur
PPMP. Cukup itu aja ya… tiada hal menarik lainnya dari penulis. Hehehe….
04/11/2012 @
Kendari
30/06/2012 @ Bintang Samudera

Tidak ada komentar:
Posting Komentar